Jakarta, 3 Oktober 2025. Dalam upaya memperkuat keberlanjutan gerakan masyarakat sipil, Lokadaya menggelar webinar pertama acara Kyutri Serial Mobilisasi Sumber Daya dengan tema “Menggali Potensi Lokal untuk Keberlanjutan.” Pertemuan yang berlangsung pada Jumat sore ini menghadirkan dua narasumber dari PIRAC, yakni Ari Syarifudin dan Ninik Annisa, yang selama ini aktif mendampingi berbagai inisiatif penggalangan sumber daya berbasis komunitas.
Acara ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan refleksi bagi para pelaku organisasi masyarakat sipil yang ingin membangun kemandirian finansial dan sosial dengan menggali potensi di lingkungannya sendiri.
Dalam paparannya, Ari Syarifudin mengajak peserta untuk kembali meninjau makna “potensi lokal”. Menurutnya, istilah ini sering dipahami secara sempit, seolah hanya berkaitan dengan sumber daya ekonomi. Padahal, potensi juga bisa berarti jaringan sosial, keahlian warga, nilai budaya, dan kepercayaan yang tumbuh di masyarakat.
“Potensi itu bukan selalu uang, Ia bisa berupa waktu, tenaga, ide, atau kepercayaan antarwarga yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan bersama.” tegas Ari.
Ari menambahkan, langkah pertama untuk melakukan akuisisi potensi lokal adalah mengenali ulang diri sendiri sebagai komunitas terkait siapa yang dimiliki, apa yang bisa dilakukan, dan di mana letak keunggulannya. Dengan begitu, organisasi tak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga penggerak yang aktif membangun daya dari dalam.
Sementara itu, Ninik Annisa menyoroti bagaimana pola pikir ketergantungan terhadap hibah atau donor kerap menghambat kemandirian komunitas. “Kita sering berpikir bahwa keberlanjutan berarti mencari pendanaan baru dari luar. Padahal, keberlanjutan bisa dimulai dari kemampuan mengelola sumber daya yang sudah kita punya,” ujarnya.
Ninik mendorong peserta untuk mulai mengidentifikasi bentuk-bentuk dukungan yang lahir dari masyarakat sendiri termasuk relawan, mitra lokal, hingga dukungan in-kind seperti tempat, alat, atau tenaga. “Kalau kita bisa menumbuhkan rasa memiliki di komunitas, maka dukungan akan datang bukan karena proyek, tapi karena keyakinan bersama,” tambahnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah prakarsa lokal yang berhasil bertahan tanpa bergantung sepenuhnya pada donor besar, mulai dari koperasi warga hingga kegiatan sosial berbasis gotong royong. “Yang penting bukan besar kecilnya sumber daya, tapi bagaimana mengelolanya dengan transparan dan kolaboratif,” jelasnya.
Diskusi dalam sesi ini berlangsung hangat. Beberapa peserta berbagi pengalaman tentang tantangan menggali dukungan di daerah yang minim sumber daya, sementara yang lain menanyakan cara mengajak warga untuk terlibat aktif dalam inisiatif sosial.
Menanggapi hal itu, Ari menegaskan bahwa proses akuisisi potensi lokal tidak bisa dilakukan instan. “Ini soal membangun relasi, bukan sekadar mencari dana. Kita harus hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari mereka, dan membangun kepercayaan secara perlahan,” katanya.
Ninik menambahkan, keberlanjutan yang sejati lahir dari komunitas yang saling percaya. “Kalau kita bisa menjaga transparansi, komunikasi, dan nilai kebersamaan, maka sumber daya akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.
Webinar Akuisisi Potensi Lokal ini menjadi pembuka dari Kyutri Serial Mobilisasi Sumber Daya yang akan terus berlanjut dengan tema-tema lanjutan seputar strategi kolaborasi, inovasi pendanaan, dan kemandirian komunitas.
Lokadaya berharap, serial ini dapat membantu organisasi masyarakat sipil melihat potensi lokal sebagai fondasi utama keberlanjutan. “Gerakan sosial tidak harus selalu mencari keluar,” demikian salah satu pesan yang mengemuka di penghujung acara. “Kadang, yang kita butuhkan sudah ada di sekitar kita hanya perlu dikenali dan dihidupkan kembali.”
Pemaparan terkait sumber daya ini tentunya sangat dibutuhkan era sekarang ini. Diskusi ini dapat diakses secara menyeluruh di Youtube Lokadaya. (*ari)