Skip to main content
All Posts By

anton

Komunitas PARHAT Belitung

By Selasar - Jendela

Komunitas PARHAT didirikan pada tahun 2021 yang digagas oleh wasor Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung dan wasor Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang melihat kecendrungan tingginya angka ketidakpatuhan minum obat pada pasien TBC yang sedang dalam pengobatan di Kabupaten Belitung.

Tinjau

KOMPASS TB Sumatera Selatan

By Selasar - Jendela

KOMPASS TB adalah organisassi yang terdiri dari para penyintas TBC yang sudah sembuh dari pengobatan dan sebagai wadah untuk menambah ilmu dan juga wawasan dalam dunia TBC dan memberdayakan para penyintas dalam mengembangkan bakat yang dimiliki oleh masing-masing anggota

Tinjau

TUAH TB Pekanbaru

By Selasar - Jendela

TUAH TB yakni singkatan dari Tunjukkan Aksi Hidup tanpa Tuberkulosis adalah lembaga sosial yang bergerak dalam memberikan dukungan pengobatan kepada pasien TBC Resisten Obat/Kebal Obat di wilayah kota Pekanbaru.

Tinjau

Yayasan SPEAK Indonesia

By Selasar - Jendela

SPEAK Indonesia merupakan organisasi nasional yang berdiri pada tahun 2004. SPEAK memiliki spesialisasi dalam peningkatan kapasitas lembaga dan masyarakat melalui strategi komunikasi yang memberdayakan semua pihak dan telah aktif di berbagai sektor pembangunan selama lebih dari 15 tahun serta berkolaborasi dengan pemerintah pusat/daerah, donor, LSM, CBO, dan sektor swasta di berbagai daerah di Indonesia.

Tinjau

Yuk, Sebar Film Kita dengan Benar

By Liputan Kegiatan

Jakarta (7/3/2025) Ada yang hal yang sering luput saat kita sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (atau pribadi) merencanakan sebuah produk film. Hal itu adalah pendistribusian film supaya bertemu dengan penontonnya. Tentu tidak mungkin, kalau kita sudah bersusah payah memproduksi film, tetapi ending-nya hanya menumpuk di hardisk saja. Hal seperti ini tentunya membuat kita merasa capek sendiri karena minim apresiasi dan akhirnya merasa enggan untuk terus berkarya di bidang ini. Padahal untuk menemukan penonton film supaya isu yang kita angkat sampai pada mereka itu memerlukan strategi dan sumber daya tersendiri.

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, Jejaring Lokadaya menghadirkan Kyutri “Berkomunikasi via Sinema”, seri ke-4 ini  bertajuk “Media Distribusi Karya.” Masih seperti pertemuan lalu, Ratmurti Mardika, yang akrab disapa “Sonkski” masih didapuk sebagai narasumber guna memberikan pengalamannya terkait distribusi film ini.  Ia merupakan dosen Sinematografi UIN Raden Mas Said yang pada tahun 2024 lalu membentuk komunitas  Sinema Warga Solo. Setiap tahun, dia juga menghadirkan film hasil karya mahasiswanya di bioskop lewat acara “Panen Sinema”.

Sebelumnya, bila kita sudah selesai mengambil gambar, perjuangan membuat film tak begitu saja usai. Setelah produksi rampung, kita masuk dalam tahapan pasca produksi. Pasca produksi adalah tahap akhir dalam proses pembuatan film setelah proses syuting selesai. Kegiatan yang dilakukan di tahap ini meliputi kegiatan menyunting, merapikan suara, menambah musik, memberikan efek visual, color grading dan final render.

Tahapan selanjutnya adalah distribusi. Distribusi adalah proses penyaluran film kepada penonton melalui berbagai platform. Kalau diluar negeri yang bertugas mendistribusikan film ke penontonnya itu bukan filmmaker ataupun produsernya. Namun, tahap tersebut dikerjakan oleh distributor professional.

Namun, di Indonesia belum banyak orang atau badan yang mengkhususkan diri bekerja di bidang distribusi film, maka ada baiknya kita pahami kerja-kerja itu, dan kita lakukan secara mandiri. Ada beberapa rilisan dalam distribusi yang perlu kita ketahui, yaitu:

  1. Rilisan lebar (disebar serentak di banyak bioskop)
  2. Rilis terbatas (ditayangkan ke bioskop tertentu atau ke festival dan komunitas tertentu)
  3. Rilis mandiri (distribusi melalui platform digital, media sosial atau film freeway)

“Rilis lebar biasanya untuk mencari keuntungan, karena kita akan terbantu lewat penjualan tiket bioskop,” ujar Sonkski

Setelah menjelaskan mengenai variasi rilisan distribusi, Sonkski juga menyuguhkan sekilas tantangan dalam distribusi, yang mana hal ini juga wajib diketahui oleh orang film. Tantangan ini mencakup:

  • Penjualan hak distribusi
  • Pemasaran dan promosi
  • Rilis film
  • Monetisasi dan pendapatan

Namun, sebenarnya semua jobdesc serta tantangan itu bukan tanggung jawab dari filmmaker. “Inilah tantangan utamanya, harus ada orang lain yang dipercaya untuk bekerja dibagian distribusi dan eksebisi”, tambah Sonkski.

Lalu mengenai eksebisi, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Faktor pertama adalah menentukan target audiens (menyesuaikan tema film dan dicocokkan ke mana akan di-publish), Kedua, pemilihan letak eksebisi. Seperti kita ketahui pemutaran bioskop saat ini paling ideal karena terdapat ruang gelap dan tata suara yang baik. Selain itu, format yang digunakan di bioskop itu premium seperti  iMAX atau ruang dengan tata suara Dolby Atmos sehingga memberikan kesan yang optimal untuk pengalaman pentonton. Faktor ketiga adalah kebijakan sensor dan regulasi. Faktor ini merupakan bagian yang berpengaruh, pasalnya biasanya isu sensitif yang diangkat OMS justru malah kena sensor.

Namun untuk film-film yang ditujukan untuk advokasi, sebaiknya memilih jalur distribusi daring, festival film, pemutaran komunitas, atau lakukan eksebisi mandiri.

Sebelum menutup pemaparan, tak lupa Sonkski juga menyinggung tentang review dan kritik film. Kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan yang memberikan pandangan objekif maupun subjektif tentang film. Kegiatan ini memberikan ruang pembicaraan tentang film tersebut. Hal inilah yang membuat film itu tetap panjang umur karena terus dibicarakan. “Kritik dan review itu sama-sama powerfull, tetapi kritik itu lebih akademik karena teori-teori film masuk disitu,” pungkas Sonkski.

Pada intinya, bila kita memiliki proyek film jangan lupa untuk merencakan strategi memepertemukan film kita dengan segmentasi penonton yang kita harapkan. Kalau perlu masukkan pula budget distribusi dalan RAB.

Diskusi mengenai distribusi film ini dapat diakses secara lengkap dikanal Youtube Lokadaya. (*ari)

Media Distribusi Karya

By Kyutri

Kawan Lokadaya!

Membuat sinema sederhana berdaya hanya sebagian dari perjalanan; langkah selanjutnya adalah bagaimana mendistribusikan karya tersebut secara optimal. Dengan memanfaatkan kanal distribusi, platform berbagi, dan strategi yang tepat, karya sederhana bisa menjangkau lebih banyak orang dan berdampak.

Mari kita eksplorasi bagaimana pesan dari karya kita sampai ke orang yang tepat!

Hari : Jumat, 7 Maret 2025
Waktu : 13.30 WIB/14.30 WITA/15.30 WITA
Tautan Zoom : https://bit.ly/LD-KYUTRI-MediaDistribusiKarya

Sampai bertemu!

Catatan Sebelum Mulai Produksi Film

By Liputan Kegiatan

Jakarta (28/2/2025). Sebagai awalan membuat film, kita seyogyanya tidak perlu membuat film yang terlalu ribet atau berambisi sekelas film Joker. Kita bisa mulai dulu dengan film yang sederhana tetapi memenuhi kriteria standar produksi film. Hal terpenting bagi OMS kita adalah cerita film tersebut wajib membawa impact perubahan, sehingga berguna dan sesuai dengan visi misi OMS kita.

Pembahasan ini diulik secara asik oleh Ratmurti Mardika yang akrab disapa “Sonkski”. Kyutri serial “Berkomunikasi via Sinema” memasuki sesi ketiga yang berjudul “Sinema Sederhana Berdaya”. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Lokadaya dan Lingkar 9 dengan dukungan dari Uni Eropa melalui program Co-evolve.

Sesi ini diawali dengan pembahasan one pager kiriman dari dua peserta. Kiriman yang pertama dari Alton yang berjudul Ombak Priok. Rencanany film pertama ini akan mengisahkan tentang hiruk pikuk kehidupan masyarakat di Tanjung Priok. One pager selanjutnya ditulis oleh Arif, berjudul “Alibi di Lautan”. One pager ini bercerita tentang konflik kerakusan manusia dan perjuangan masyarakat nelayan yang dirugikan.

Mereka antusias menyampaikan alasan dan bagaimana perspektif mereka masing-masing. Sonkski memberikan masukan dan komentarnya pada pembahasan one pager ini. Tentu hal ini menarik sekali untuk didiskusikan.

Dalam proses pembuatan film sampai dapat ditonton masyarakat terdapat 5 tahapan yang biasa dilalui, yaitu:

  1. Pra produksi: Pada tahap ini kita akan membuat cerita dan mencari dukungan.
  2. Produksi: Tahap ini meliputi kegiatan mengambil gambar (shooting), membuat suara dan adegan.
  3. Pasca produksi: Hal yang penting dilakukan di tahap ini ialah proses editing, pewarnaan, pemberian sound effect, serta finishing film.
  4. Distribusi: Tugas pokoknya adalah mempromosikan dan mengirim film ke festival atau bioskop.
  5. Eksebisi: Komunitas dan bioskop-bioskop adalah bagian penting dari tahap eksebisi ini.

“Sayangnya di Indonesia kelima tahap ini biasanya masih di-handle oleh seorang produser”, ujar Sonkski. Padahal alangkah leluasanya para kru, bila semua tahapan ini dikerjakan oleh orang yang berbeda dan yang lebih kompeten di bidang masing-masing.

Ada pertanyaan menarik dari peserta terkait perbedaan produser dengan sutradara. Produser itu bertanggungjawab atas manajemen di belakang layar. Sedangkan Sutradara bekerja untuk film yang akan ditampilkan di depan layar. Nah, sebaiknya dua Jobdesc ini dikerjakan oleh dua orang yang berbeda, bukan dirapel satu orang saja.

Selanjutnya dalam hal pendekatan dengan narasumber, kita sebaiknya menunggu momen yang tepat dahulu. Biasanya protagonis harus sudah kenal dan akrab dulu, barulah diajak Shooting. “Jangan gunakan hari pertama bertemu langsung memakai kamera”, tambah Sonkski. Kalau tetap memaksakan mengambil gambar , pasti hasil ceritanya tidak utuh dan terkesan seperti wawancara yang kaku.

Perlu dipahami, karena film itu sebuah entitas dari gambar, suara dan cerita, jadi mau tak mau kita harus mengusahakan gambar dari kamera yang bagus. Apakah bisa shooting dokumenter memakai Handphone? Jawabannya bisa, cukup, tetapi gambarnya tidak akan variatif dan pengambilan suaranya juga susah karena kurang maksimal.

Standar produksi gambar yang digunakan saat ini adalah beresolusi 4K, karena ditilik dari peralatan yang beredar kini mayoritas sudah menggunakan resolusi ini. Dalam sebuah film pendek biasanya cukup menggunakan mirorless maupun DSLR. Selain kamera, kita juga sebaiknya menyediakan 3 lensa yang berbeda. Lensa ini meliputi pengambilan gambar long shoot, medium shoot dan close up.

Hal yang tak kalah penting adalah microphone. Kalau sudah di lapangan, teman-teman OMS biasanya lupa membawa microphone. Walaupun kamera yang digunakan sudah bisa mengambil suara, tetapi kita tetap harus memakai microphone atau clip-on agar kamera bisa leluasa mengambil gambar.

Tantangan pengambilan suara adalah suara tersebut tidak dapat dilihat. Biasanya pembuatan film menggunakan 3 jenis mic, yaitu: shotgun mic, lavelier dan boom mic. Selain kamera, lensa, mic, Sonkski juga menjelaskan sekilas tentang penggunaan tata cahaya dan teknisnya.

Pada kesempatan ini, Sonkski menjelaskan banyak hal teknis dalam pembuatan film. Dia juga membagikan modul lengkap dan detail sehingga dapat dipelajari oleh semua peserta Kyutri.

Pelatihan teknis yang sangat penting ini dapat dilihat menyeluruh di kanal Youtube Lokadaya. (*ari)

Sinema Sederhana Berdaya

By Kyutri

Kawan Lokadaya!

Sinema bukan hanya milik para profesional dengan peralatan mahal dan produksi besar, siapapun bisa membuat sinema sederhana yang tetap memiliki daya untuk menyampaikan pesan dan menginspirasi perubahan.

Mari kita pelajari bagaimana membuat sinema sederhana yang efektif, bermakna, dan penuh daya!

Hari : Jumat, 28 Februari 2025
Waktu : 13.30 WIB/14.30 WITA/15.30 WITA
Tautan Zoom : https://bit.ly/LD-KYUTRI-SinemaSederhana

Sampai bertemu!

Mengolah Data Menjadi Film

By Liputan Kegiatan

Jakarta (21/2/2025). Saat kita memiliki koleksi  data, menentukan perspektif adalah hal yang krusial tatkala kita akan menyulapnya menjadi sebuah film dokumenter. Tak lain tak bukan, pemilihan perspektif bisa membawa penonton pada pengalaman penonton, emosi yang ditimbulkan, serta call to action yang diharapkan.

Cuplikan mengenai perspektif tersebut, tersirat pada Kyutri seri “Berkomunikasi via Sinema” yang diadakan Jejaring Lokadaya Jumat (21/2). “Data Jadi Drama” adalah tajuk yang diangkat untuk seri kedua ini. Ratmurti Mardika seorang filmmaker documenter memantik diskusi dengan pertanyaan, “bagaimana mengolah data, mengenalinya dan mengklasifikasikannya, dan mengolahnya menjadi drama?”

Sebagai awalan, peserta diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang data, drama, perspektif dan bentuk drama. Data meliputi catatan, informasi, pengetahuan, dll, yang bisa digunakan dan diolah menjadi film dokumenter. Sedangkan drama adalah metode seni teatrikal yang menjadi dasar dari film. Teori drama ini masih berpijak pada drama 3 babak dari Aristoteles, yang merupakan teori klasik yang exist sejak jaman kuno. Namun, di Holywood-pun masih menggunakan teori 3 babak ini, yang mana mereka kombinasikan dengan struktur dan bahasa audio visual yang baik.

Mengenai perspektif saat membuat drama kita harus mengenal beberaepa sudut pandang yang akan kita lekatkan pada protagonis, apa dan data apa yang harus dilekatkan pada tubuh protagonis bila mengambil perspektif tersebut. Selanjutnya ialah bentuk film yang merupakan entitas Storytelling, Audio, dan Visual. Bentuk film itu jenisnya banyak, konten media sosial, film fiksi, dokumenter, dan lain-lain. Tentunya dari jenis bentuk tersebut, bisa kita pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan OMS kita masing-masing.

Apabila kita memilih film Dokumenter, informasi tidak akan terdistorsi dan pesan dapat tersampaikan secara jujur, hamper menyerupai kenyataan yang terjadi. “Kalau mau bikin dokumenter, sebaiknya harus merancang bentuk eksebisi yang bisa langsung berinteraksi dengan penontonnya,” ujar pria yang akrab dipanggil Sonkski ini.

Pada tahap awal pembuatan film, Sonkski menyarankan sebuah workflow yang dia gunakan selama ini, workflow tersebut meliputi:

– pahami data

– analisis data

– ambil perspektif

– elemen naratif

– one pager dan pitch deck (semacam proposal tetapi ringkas, biasa digunakan untuk mencari dukungan)

– penulisan naskah

developing

– produksi – Pasca Produksi

Pemaparan selanjutnya mengenai data analisis dan pemilihan perspektif. Ibarat mau memasak, kita harus tahu dulu bahan masakannya.

Menurut Eko Komara dalam seri Kyutri yang terdahulu, Data terletak di posisi paling bawah sebuah bagan hierarki pengetahuan. Perlu dipahami, data bisa jadi sebuah informasi, tetapi belum tentu informasi tersebut bisa dijadikan film. Menurut Sonkski, posisi film dalam hierarki pengetahuan adalah pada tingkatan knowlegde dan wisdom. Kalau sekedar data dan informasi itu masih data mentah atau feature, belum bisa disebut film. Sebuah film tentunya dapat memberikan pengetahuan baru dan dapat menarik empati guna sebuah aksi perubahan.

Contohnya, seperti sebuah film yang bercerita tentang eksebisi lumba-lumba. Bagaimana seekor lumba-lumba dididik, bahkan disiksa untuk menghasilkan pertunjukan yang atraktif. Nah, harapannya setelah melihat dokmenter ini, banyak penonton yang mendapat pengetahuan baru , terketuk hatinya dan enggan melihat eksebisi lumba-lumba lagi. Ini yang dinamakan film tersebut berhasil dan membawa perubahan.

Hal yang tak kalah penting adalah elemen naratif. Elemen ini merupakan pembeda antara film dokumenter dan sebuah berita, tabloid, ataupun baliho sekalipun. Kita harus memikirkan plot (alur cerita), karakter, latar, konflik (tidak ada konflik, bisa dipastikan tidak akan ada perubahan), Point of View, Ironi (ketidakseimbanagan antara harapan dan kenyataan) dan simbolis (elemen untuk mewakili sesuatu yang lebih besar).

Pada kesempatan ini, Sonkski juga membantu seorang peserta dari Bulukumba, Nur Ismi, untuk mendevelop elemen naratif terkait konflik yang dialaminya. Beliau adalah seorang pendamping buruh migran di area perbatasan Indonesia-Malaysia.

Di akhir diskusi, peserta diminta untuk berlatih membuat one pager, yang meliputi:

– Logline (kalimat pendek yang menggambarkan inti cerita). Logline ini biasa ditujukan untuk produksi saja

– Sinopsis (ditujukan untuk calon penonton, bagaimana seorang film maker ini mengajak orang untuk mau menonton filmnya)

– Statement (mengapa film ini penting untuk dibuat dan ditonton. Apa saja motivasinya?).

Diskusi serta pelatihan menyusun data jadi drama,  tentunya sangat menarik ya? Pelatihan ini dapat dilihat secara lengkap di kanal Youtube Lokadaya. (*ari)

Data Jadi Drama

By Kyutri

Kawan Lokadaya!

Data bukan sekadar angka atau teks, data bisa menjadi cerita yang menggugah banyak orang! Mengolah data dengan cara menarik dapat membuat pesan lebih mudah dipahami dan berdampak. Salah satu cara efektif untuk menyajikannya adalah melalui media visual, seperti sinema.

Mari kita eksplorasi bagaimana data dapat diubah menjadi cerita yang kuat dan bermakna melalui sinema!

Hari : Jumat, 21 Februari 2025
Waktu : 13.30 WIB/14.30 WITA/15.30 WITA
Tautan Zoom : https://bit.ly/LD-KYUTRI-DataJadiDrama

Sampai bertemu!

Organisasi Masyarakat Sipil yang Sinematik

By Liputan Kegiatan

Jakarta (14/2/2025). Film memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan sosial-budaya, penting  sebagai alat komunikasi, advokasi dan pemberdayaan. Karenanya, Organisasi Masyarakat Sipil dirasa wajib memproduksi film karena mereka mempunyai kekayaan berupa arsip data, bahan bercerita, kedekatan psikologis dan jaringan yang kuat. Selain itu, singgungan film dan OMS terletak pada daya untuk mendorong kesadaran, menginspirasi aksi nyata dari individu, komunitas, dan pemangku kepentingan.

Memandang peran penting film, Jejaring Lokadaya menghelat serial Kyutri bertema “Berkomunikasi Via Sinema”. Kyutri seri ini direncanakan berlangsung selama satu bulan dan menghadirkan seorang filmmaker yang juga dosen praktisi Sinematografi di UIN Raden Mas Said Surakarta, Ratmurti Mardika.

Seri pertama diadakan pada Jumat kemarin tanggal 14 Februari, dengan topik Daya Media Sinema. Pada sesi ini, Ratmurti yang akrab disapa dengan Sonkski, banyak memberikan perspektif sinema pada puluhan peserta yang hadir di ruang zoom, ia juga berdiskusi serta mendengarkan sejauh mana sinema itu berdampak pada kehidupan masyarakat khususnya OMS.

Di awal diskusi, Sonkski memantik tentang kaitan masyarakat dan seni dari berbagai aspek kehidupan. Jika dilihat dari sisi seni, film ini jelas merupakan produk seni yang mengandung drama didalamnya. Dari sisi ekonomi, film merupakan miniatur kehidupan yang jumlah permintaannya banyak, tetapi supply-nya kurang/sedikit. Hal tersebut tentu menjadikan film sebagai ladang ekonomi masyarakat, sebab produksi sebuah film pasti melibatkan banyak profesi, contohnya makeup artist, wardrobe, tukang sound dan masih banyak lagi.

Dipandang dari sisi komunikasi, film ialah bahasa khusus yang menggunakan bahasa audio, visual dan story. Film juga digunakan sebagai media penyampai pesan. Sedangkan jika ditinjau dari sisi sosial politik, film tentu dapat membangkitkan empati penontonnya, bahkan bisa menjadi agen propaganda. Daya jangkau film itu luas, sehingga bisa menjadi sebuah produk budaya yang masif. “Kalau film itu hidup lestari setiap hari di sebuah wilayah, tentunya bisa membuat wilayah/kota tersebut menjadi sebuah pusat budaya seperti Hollywood”, ujar Sonkski.

Tak lupa Sonkski menghadirkan contoh karya-karyanya yang mayoritas berhubungan dengan kinerja OMS. “Bukit Bernyawa” ialah film yang ia rasa berdampak langsung secara nyata pada warga yang membutuhkan bantuan.  Film ini bermula dari 0 (nol) rupiah alias tidak ada budget-nya, ia dan timnya merangkai  footage-footage yang tidak terpakai agar bisa membentuk sebuah narasi. Sonkski mengambil footage saat bekerja untuk program Biogas Hivos (Yayasan Humanis Inovasi Sosial) di area Gunung Merapi. Bukit Bernyawa telah menjadi nominasi beberapa festival luar negeri dan memenangkan DocNet South East Asia tahun 2012. Film ini sangat berkesan dan menjadi sebuah titik balik bagi kehidupan Sonkski.

Pada saat itu, film ini digunakan untuk mencari donasi guna membantu masyarakat terdampak erupsi gunung Merapi. Hasil yang terkumpul terbilang cukup fantastis, bisa digunakan untuk merenovasi Rumah Gamelan di desa Srunen. “Membuat film ini adalah cara yang apik untuk membantu sesama, di saat kita belum mampu memberi sesuatu,” tambah Sonkski.

Film terbaru yang dia produksi berjudul “Sengkala”. Penjelasan terkait film Sengkala ini sekaligus jawaban atas pertanyaan seorang peserta diskusi yang menanyakan mengenai antropologi visual dalam film. Sengkala menceritakan tentang cara menulis angka tahun era Jawa Kuno. Menariknya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Kemdikbud bersedia mendanai produksi film ini.

Ada beberapa poin yang layak dicatat sebelum memulai untuk memroduksi film, sebaiknya OMS mengetahui pengetahuan dasar perfilman yang meliputi:

– story (struktur dramanya, kemampuan story telling, pengenalan dramaturgi 3 babak yaitu pengenalan, konflik dan resolusi)

– Visual (foto, sinematografi dan editing)

– Audio (merekam, mengedit, dan mengidentifikasi suara)

Hal baku yang perlu dipunyai OMS adalah kesadaran dokumentasi dahulu. Barulah kemudian memenuhi 5W 1H dalam sebuah dokumentasi advokasi. Nah jika 5W+1H terpenuhi, baiknya ditambahkan 1A (art). Meskipun di dokumenter itu tuntutannya tidak seperti di film fiksi, tidak harus menggunakan kamera mahal bak film fiksi, pencahayaan ala teater, tetapi titik beratnya adalah pada runtutan cerita yang bagus yang wajib dipenuhi.

Pada sesi ini antusias peserta sangat luar biasa. Baik di kolom komentar maupun peserta yang open mic. Mereka menceritakan isu-isu seksi yang mereka dampingi, seperti kasus HIV AIDS di Merauke, buruh migran yang terabaikan, cerita penyandang disabilitas yang merasa didzolimi oknum polisi, dan masih banyak konflik menarik yang terungkap. Mereka merasa Kyutri kali ini sangat cocok dan dibutuhkan oleh mereka, guna menyuarakan keluh kesah mereka selama di OMS.

Penasaran dengan kemeriahan diskusi asik kali ini? Obrolan berbobot ini dapat disimak secara keseluruhan di kanal Youtube Lokadaya.(*ari)

Daya Media Sinema

By Kyutri

Kawan Lokadaya!

Di era digital ini, teks dan lisan saja tidak cukup untuk menyampaikan sebuah pesan. Dalam mengemas pesan menjadi lebih relevan dan menarik, salah satu alat komunikasi yang dapat digunakan adalah media sinema.

Mari kita jelajahi bagaimana pesan dikemas menjadi sebuah sinema, yang tidak hanya menarik namun efektif!

Hari : Jumat, 14 Februari 2025
Waktu : 13.30 WIB/14.30 WITA/15.30 WITA
Tautan Zoom : https://bit.ly/LD-KYUTRI-DayaMediaSinema

Sampai bertemu!

Dampak Besar Multimedia Dalam Advokasi

By Liputan Kegiatan

Jakarta (24/1/2025). bastilah sudah umum bila kita sebagai pegiat advokasi menggunakan siaran pers sebagai satu media penggaung isu maupun gerakan yang kita motori. Namun, perlu diingat bahwa kebutuhan audiens bukan hanya teks. Dalam kenyataan sehari-hari banyak dijumpai teks yang panjang berlembar-lembar yang alangkah baiknya jika dibuat dengan lebih menarik, bisa menampilkan infografis, link audio, link foto atau video.

Irvan Imamsyah selaku narasumber diskusi Kyutri bertajuk Optimasi Advokasi Digital, menyampaikan perihal pengalamannya menangani siaran pers yang menjadi makanan sehari-harinya. Serial “Seni Komunikasi dalam Advokasi”, yang diadakan oleh jejaring Lokadaya ini masuk pada sesi kedua pada Jumat lalu. (24/01)

Pada sesi pamungkas ini, Irvan memberikan apersepsi mengenai pentingnya mempelajari dan meriset audiens. Seperti yang dikatakannya pada sesi pertama, komunikasi adalah upaya menyampaikan pesan. Oleh karena itu, ada baiknya pendekatan komunikasi yang digunakan bisa lebih personal, agar kita menjadi lebih dekat dan paham selera audiens, sehingga perubahan sosial yang diinginkan bisa terlaksana.

“Di era digital ini, multimedia memegang peranan penting dalam proses kampanye kesadaran sosial. Seperti gambar peringatan darurat. Bukan hanya tentang penyampaian pesan, tetapi cara menggugah audiens untuk bertindak”, ujar Irvan.

Kekuatan gambar garuda putih dengan latar biru dan tulisan peringatan darurat yang menggegerkan Indonesia tahun lalu. Gambar ini bertengger 10 hari berturut-turut di media sosial. Dengan adanya gambar ini, orang menjadi penasaran dan mencari tahu tentang fakta kedaruratan tersebut. Selain itu, orang-orang yang melihat serta mencari tahu akan tergerak untuk bersuara dan melakukan tindakan.

“Kenapa harus menggunakan multimedia?”, tanya seorang peserta. Irvan pun mencontohkan salah satu foto juara lomba foto dunia. Foto tersebut bernarasi tentang seorang anak Ethiopia yang kelaparan dan ditunggui burung pemakan bangkai di dekatnya. Walaupun pada akhirnya sang fotografer mengatakan bahwa karyanya tak murni hingga akhirnya ia tak kuat menghadapi tekanan publik. Namun, foto ini telah trending dan dibicarakan di mana-mana. Banyak yang berpendapat bahwa karyanya sangat apik dan impactfull. Untuk itu, kampanye multimedia harus dirancang dengan cermat agar dapat memikat jutaan orang. Dalam sesi ini, Irvan juga menjelaskan mengenai multimedia dan perannya sebagai kendaraan kampanye kesadaran sosial. Multimedia itu meramu semua media komunikasi menjadi satu kemasan yang baik.

Multimedia adalah sinergi berbagai bentuk media baik teks, audio, gambar, animasi, video dan konten interaktif untuk menciptakan pengalaman yang holistik dan menarik. Multimedia juga menggabungkan berbagai elemen, dimana masing-masing memiliki peran unik dalam menyampaikan pesan. Selanjutnya, multimedia memungkinkan penceritaan yang lebih kaya dan bernuansa. Dengan menggabungkan teks, visual dan audio, multimedia memberikan nyawa pada narasi, membuatnya lebih berkesan dan berdampak.

Keunggulan multimedia itu cakupan jangkauannya luas, serta mudah dibagikan di media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna internet menghabiskan 30% waktu mereka di platform media sosial. Alasan keterlibatan yang tinggi tersebut, memberikan  peluang lebih besar untuk viral atau trending. Nah, peluang ini yang harus teman-teman CSO manfaatkan.

“Kadang orang itu baca berita dari medsos, bukan dari platform media itu sendiri,” tambah Irvan. Kita bisa memahami dahulu tren dan menyesuaikan algoritmanya sehingga kampanye kita bisa naik tinggi karena telah sesuai atensi publik.

Keunggulan multimedia selanjutnya adalah fleksibel. Konten multimedia dapat digunakan kembali di berbagai platform, mulai dari medsos, situs web, hingga buletin dan siaran pers. Fleksibilitas ini memungkinkan konsistensi dalam branding dan penyampaian pesan, sehingga memperkuat dampak kampanye kita.

Melalui multimedia orang dapat memiliki pemahaman yang lebih baik. Multimedia membantu menjelaskan isu-isu kompleks dengan menyajikannya ke dalam format yang mudah dipahami. Sebagai contoh, infografik dapat menyederhanakan data yang rumit, video dapat mendemonstrasikan proses atau urutan yang membuat informasi lebih mudah diakses oleh audiens yang lebih luas.

Paparan tentang pentingnya multimedia ini dapat diikuti secara utuh di kanal Youtube Lokadaya. (*ari)

Lembaga Pengkajian dan Penguatan Kapasitas (LEKAT)

By Selasar - Jendela

Lembaga Pengkajian dan Penguatan Kapasitas (LEKAT) Papua adalah sebuah organisasi non pemerintahan yang didirikan pada tanggal 14 November 2016 di kota Jayapura oleh beberapa profesional muda papua yang ingin berkontribusi secara aktif dan bersinergi dengan para stakholder lainnya untuk menjawab permasalahan pembangunan di Tanah Papua. Dengan lambang “tangan yang memegang pena dalam lingkaran bola dunia”, LEKAT Papua siap menyumbang pikiran dan tenaga

Tinjau

LSM BYTRA

By Selasar - Jendela

BYTRA adalah organisasi mandiri bersifat nirlaba, yang berfungsi melakukan advokasi dan pemberdayaan masyarakat Mukim/Gampong dan Masyarakat Adat di Aceh serta memiliki komitmen sebagai kelompok masyarakat sipil yang berkarakter perubahan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup dan penguatan demokrasi.

Tinjau

Komunikasi Kunci Advokasi

By Liputan Kegiatan

Jakarta (17/1/2025). Sudah barang tentu, komunikasi memegang peran krusial pada kerja-kerja aktivisme apalagi di dunia digital yang terus melaju sekrang ini. Lokadaya memandang kepentingan ini harus dipertajam dan pegiatnya perlu terus meng-update kapasistasnya. Oleh karenanya gelaran Kyutri seri Seni Komunikasi dalam Advokasi yang dihelat Lokadaya pada Jumat (17/1) menjadi spesial karena menghadirkan ahli komunikasi yang kompeten dan sempat menghebohkan pemilu 2024 lewat karyanya. Beliau adalah Irvan Imamsyah, co-founder Koma Berseru dan produser dari “Dirty Vote”.  Melalui “Dirty Vote”, Irvan dan teman-temannya mengajak masyarakat untuk lebih melek kecurangan-kecurangan yang terjadi di Pilpres.

Walaupun salah satu paslon yang terindikasi curang tersebut tetap menang, tetapi advokasi yang dilakukan Irvan dan kawan-kawan diklaim berhasil. Film “Dirty Vote” bisa trending, meskipun terkena Black Shadow oleh buzzer bayaran. Black Shadow adalah hambatan dalam kampanye. Di sesi ini, Irvan juga berbicara mengenai trick mengatasi Black shadow agar pesan yang dia usung tetap viral dan lebih tersampaikan. Menarik bukan?

“Strategi komunikasi itu bukan soal kamu atau saya, melainkan tentang masyarakat yang kita dampingi”, ungkap Irvan. Dalam melakukan advokasi, kita berkewajiban mendampingi masyarakat agar mau terlibat dan maju bersama menyuarakan aspirasi mereka.

Selaku aktivis, alangkah baiknya merenungi dahulu apa yang harus kita perjuangkan. Selain itu, bagaimana memberi porsi sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan peran pendampingan dari kita.

Advokasi adalah sebuah proses untuk mendorong perubahan sosial melalui komunikasi yang efektif. Sedangkan, komunikasi merupakan kunci untuk mencapai tujuan advokasi dan menginspirasi untuk bertindak. Menurut Irvan, trik yang bisa digunakan dalam advokasi antara lain:

  • Menggunakan cerita yang menginspirasi, narasi nyata dan menyentuh emosi audiens.
  • Menggabungkan data dan fakta yang mendukung untuk memberikan kredibilitas.
  • Mengajak audiens untuk terlibat dalam perubahan (call to action)

“Namun sebelum itu, kita wajib mengenali target audience dahulu. Kalau di media umum, seperti saya di TV, semua umur dihajar habis dengan format yang sama” ujar Irvan. Tentunya hal tersebut kurang efektif di era sekarang ini, yang mana mayoritas warganya di dominasi oleh anak muda atau gen Z.

Kita bisa mempelajari batasan usia anak muda sesuai kebiasaannya. Rentang umur pertama adalah usia 18-21 tahun. Di umur ini engagement-nya harus berkorelasi dengan jobfair dan peluang usaha. Perlu diketahui bahwa mereka ini masih sangat memperhatikan hal-hal yang trending atau viral di media sosial.

Rentang umur kedua ialah usia 22-25 tahun. Untuk menarik perhatian rentang umur ini, sebaiknya kita  gunakan sesuatu yang berhubungan dengan financial freedom dan financial management. Selanjutnya, rentang umur 26-30 tahun. Ciri khas umur ini biasanya sudah memikirkan keluarga, masa depan dan cara mempertahankan diri di dunia kerja

Setelah mengenali target, kita perlu menentukan audience segmentasi. Hal ini dapat dilakukan dengan kampanye advokasi. Langkah pertama paling simpel bisa kita mulai dengan meminta tanggapan pengikut di media sosial (kuesioner). Sebagai komunikator, kita harus benar-benar bisa terlibat serta memahami insight yaitu tentang cara mendekatkan diri ke publik dan cara menggapai pesona anak muda untuk mau bergabung dalam aksi.

Tahapan terakhir adalah menentukan target yang jelas. Kita harus membuat pesan yang mudah dipahami dan relevan dengan audiens. Setelah itu, kita pilih medianya. Platform atau media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan seperti media sosial, film dan pers conference.

Diskusi hangat tentang Seni Komunikasi dalam Advokasi ini dapat dinikmati menyeluruh di Kanal Youtube Lokadaya. (*ari)