Skip to main content

Mataram, 14 Oktober 2026 – Jejaring Lokadaya Nusantara bersama Simpul Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menggelar Seri Pelatihan Penguatan Kapasitas Keamanan Digital dan KBGO untuk Perempuan dan Kelompok Rentan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 13–14 Oktober 2026 di Hotel Astoria Mataram, diselenggarakan berkolaborasi dengan Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (Inspirasi) dan didukung oleh Oxfam Hong Kong. Kegiatan melibatkan perwakilan dari 24 organisasi dan komunitas dengan latar belakang yang beragam, mulai dari organisasi perempuan dan keagamaan, jurnalis, lembaga pendamping perempuan dan anak, organisasi kepemudaan, masyarakat adat, kelompok disabilitas, komunitas pemuda digital, hingga perguruan tinggi.

Kegiatan ini berangkat dari semakin besarnya ruang digital dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus meningkatnya risiko kekerasan yang menggunakan teknologi sebagai medium.

Direktur Inspirasi, Rohani Inta Dewi, menekankan bahwa perhatian terhadap kekerasan berbasis gender di ruang digital masih perlu diperkuat. Menurutnya, masyarakat kini menghabiskan banyak waktu dalam ruang digital sehingga risiko yang muncul di dalamnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Membangun Kesadaran tentang Risiko di Ruang Digital

Perwakilan Tim Lokadaya Nusantara, Raudatul Janah, menjelaskan bahwa pelatihan di NTB merupakan bagian dari rangkaian kerja penguatan keamanan digital yang dikembangkan bersama mitra di sejumlah wilayah.

Kolaborasi dengan Inspirasi bermula dari pembahasan mengenai kebutuhan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender yang terjadi secara daring. Dari proses tersebut, penguatan kapasitas keamanan digital dipandang perlu menjangkau bukan hanya perempuan dan anak perempuan, tetapi juga kelompok rentan lainnya. Narasio.com

Raudatul juga menyoroti berbagai catatan organisasi masyarakat sipil dan lembaga nasional yang menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender, termasuk yang terjadi secara daring, menjadi persoalan yang semakin perlu mendapatkan perhatian setelah pandemi.

Karena itu, pelatihan tidak hanya membahas bagaimana teknologi digunakan, tetapi juga bagaimana setiap orang dapat mengenali risiko, melindungi data pribadi, dan mengambil langkah ketika menghadapi ancaman digital.

Dari Phishing hingga Pengambilalihan Akun

Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi keamanan digital bersama dosen dan praktisi teknologi informasi Brian Abby Ariestyo Wiryandito.

Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk ancaman digital, antara lain phishing, social engineering, pengambilalihan akun, impersonasi, doxxing, penipuan digital, hingga cyberstalking.

Pembelajaran tidak berhenti pada teori. Peserta juga melakukan praktik pengamanan perangkat dan akun masing-masing.

Mereka diajak melakukan audit keamanan email, menggunakan passphrase yang lebih panjang dan unik, memeriksa pengaturan privasi media sosial, mengaktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA, hingga mengenali penggunaan fitur biometrik sebagai lapisan tambahan dalam melindungi perangkat dan akun.

Pendekatan praktik tersebut menjadi penting karena keamanan digital sering kali berawal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Mengenali Beragam Bentuk KBGO

Hari kedua difokuskan pada pemahaman mengenai bentuk-bentuk KBGO, etika digital, serta perlindungan hukum bagi penyintas.

Direktur LBH APIK NTB, Nuryanti Dewi, mengingatkan bahwa kekerasan berbasis gender online tidak semata-mata merupakan persoalan teknologi. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol, memanipulasi, atau mengeksploitasi korban. Narasio.com

Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk KBGO, di antaranya penyebaran konten intim tanpa persetujuan, cyberstalking, doxxing, impersonasi, pornografi deepfake, sextortion, cyber grooming, cyber harassment, hingga penipuan rekrutmen kerja secara daring. Narasio.com

Pemahaman terhadap ragam bentuk kekerasan tersebut menjadi penting agar masyarakat mampu mengenali bahwa kekerasan di ruang digital tidak selalu berbentuk serangan teknis terhadap perangkat. Ancaman juga dapat muncul melalui relasi, manipulasi, penyebaran data, atau penggunaan konten tanpa persetujuan.

Stigma Masih Menjadi Hambatan Korban untuk Melapor

Salah satu tantangan yang dibahas dalam pelatihan adalah masih kuatnya rasa takut dan stigma yang dialami penyintas.

Nuryanti menjelaskan bahwa korban KBGO sering tidak melaporkan pengalaman mereka karena khawatir dianggap sebagai aib, malu, atau takut menghadapi stigma sosial. Perempuan dan anak merupakan kelompok yang banyak mengalami risiko, meski kekerasan berbasis gender online pada dasarnya dapat mengenai siapa saja.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan keamanan digital perlu berjalan beriringan dengan sistem pendampingan yang berpihak kepada korban.

Kemampuan mengamankan akun penting, tetapi ketika kekerasan sudah terjadi, korban juga membutuhkan informasi mengenai pilihan penanganan, dukungan psikososial, akses pendampingan, serta jalur hukum yang dapat ditempuh.

Membangun Simpul Respons KBGO di NTB

Dari rangkaian pelatihan, empat aspek dipandang penting untuk memperkuat respons terhadap kekerasan digital: regulasi dan penegakan hukum, edukasi dan peningkatan kesadaran publik, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan sistem dukungan bagi penyintas.

Keterlibatan 24 organisasi dan komunitas dengan latar belakang yang beragam membuka peluang agar pengetahuan dari pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir.

Organisasi perempuan dapat memperkuat pendampingan, jurnalis dapat meningkatkan kepekaan dalam pemberitaan, organisasi pemuda dan komunitas digital dapat memperluas literasi keamanan, sementara lembaga layanan dapat semakin mengenali karakter kasus KBGO yang berkembang mengikuti perubahan teknologi.

Melalui rangkaian ini, Jejaring Lokadaya Nusantara bersama Inspirasi mendorong tumbuhnya simpul komunitas yang lebih mandiri dan berkelanjutan dalam merespons KBGO di NTB.

Upaya tersebut menjadi penting karena ruang digital terus berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bersamaan dengan peluang yang ditawarkan teknologi, kemampuan untuk mengenali risiko, menjaga keamanan diri, dan mengetahui ke mana harus mencari pertolongan juga perlu tumbuh.

Dengan penguatan kapasitas yang dilakukan secara bersama, keamanan digital diharapkan tidak hanya menjadi keterampilan individu, tetapi berkembang menjadi pengetahuan kolektif untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi perempuan dan kelompok rentan.

 

Sumber : Narasio