Skip to main content
Category

Kutipan Media

Perkuat Perlindungan Perempuan dan Kelompok Rentan, Pelatihan di NTB Dorong Kesadaran Keamanan Digital dan KBGO

By Kutipan Media

Mataram, 16 Oktober 2026 – Penguatan literasi keamanan digital menjadi langkah penting dalam melindungi perempuan, anak, dan kelompok rentan dari ancaman kekerasan berbasis gender online (KBGO). Melalui pelatihan yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB), berbagai organisasi dan komunitas diajak meningkatkan pemahaman serta keterampilan untuk mengenali, mencegah, dan merespons kekerasan di ruang digital.

Kegiatan ini melibatkan puluhan perwakilan organisasi perempuan, komunitas keagamaan, jurnalis, hingga perguruan tinggi. Selain memperkenalkan berbagai bentuk ancaman digital, pelatihan juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk memperkuat perlindungan terhadap kelompok yang rentan mengalami kekerasan berbasis gender.

Direktur Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (Inspirasi), Rohani Inta Dewi, menyampaikan bahwa kasus KBGO semakin menjadi perhatian sejak pandemi Covid-19. Perkembangan tersebut, menurutnya, dapat dilihat melalui berbagai catatan yang dihimpun oleh SAFEnet dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital membuat persoalan keamanan tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Meski demikian, pembahasan mengenai kekerasan berbasis gender yang terjadi secara daring dinilai masih belum mendapatkan perhatian sebesar kekerasan yang berlangsung secara langsung.

Memperkuat Kesadaran dan Respons terhadap KBGO

Pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan individu dalam menjaga keamanan digital, tetapi juga mendorong terbentuknya simpul keamanan digital dan KBGO di NTB.

Simpul tersebut diharapkan dapat menjadi ruang penguatan kapasitas, pertukaran informasi, serta dukungan bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan dalam menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.

Rohani menekankan pentingnya membangun pemahaman bersama mengenai bagaimana kekerasan berbasis gender dapat terjadi melalui penggunaan teknologi. Terlebih, media sosial dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, mulai dari komunikasi, pendidikan, pekerjaan, hingga kehidupan sosial.

Melalui penguatan kapasitas ini, para peserta diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan keamanan digital di lingkungan organisasi dan komunitas masing-masing.

Mengenali Ancaman dan Mempraktikkan Keamanan Digital

Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah pengenalan ancaman keamanan digital serta praktik langsung untuk melindungi perangkat dan akun pribadi.

Praktisi teknologi informasi Brian Abby Ariestyo Wiryandito memfasilitasi pembelajaran mengenai langkah-langkah pengamanan digital yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta diajak melakukan pemeriksaan keamanan akun email, menyusun passphrase atau kata sandi yang lebih panjang dan unik, mengatur privasi media sosial, serta mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-factor authentication/2FA).

Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan fitur keamanan biometrik sebagai salah satu lapisan perlindungan tambahan untuk mencegah akses tidak sah terhadap perangkat maupun akun digital.

Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan digital yang lebih aman. Perlindungan akun dan data pribadi merupakan langkah dasar yang penting untuk mengurangi risiko penyalahgunaan identitas, pengambilalihan akun, dan berbagai ancaman lain di ruang digital.

Dengan pendekatan praktik langsung, peserta memperoleh kesempatan untuk memeriksa serta memperbaiki pengaturan keamanan perangkat dan akun yang mereka gunakan.

KBGO Bukan Sekadar Persoalan Teknologi

Selain keterampilan teknis, pelatihan juga membahas dimensi sosial dan hukum dari kekerasan berbasis gender online.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) NTB, Nuryanti Dewi, memberikan pemahaman mengenai etika digital, bentuk-bentuk KBGO, serta perlindungan hukum yang dapat diakses oleh penyintas.

Nuryanti menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender online tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan perangkat atau teknologi. Dalam banyak situasi, teknologi juga digunakan oleh pelaku untuk mengendalikan, memanipulasi, dan mengeksploitasi korban.

Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk KBGO, seperti penyebaran konten intim tanpa persetujuan, penguntitan digital (cyberstalking), penyebaran informasi pribadi (doxxing), penyamaran identitas (impersonation), pemerasan seksual (sextortion), manipulasi konten seksual menggunakan teknologi deepfake, hingga cyber grooming dan pelecehan secara daring.

Pengenalan tersebut penting agar peserta dapat memahami bahwa kekerasan digital tidak selalu terlihat dalam bentuk serangan terhadap sistem atau perangkat. Ancaman juga dapat terjadi melalui komunikasi, relasi personal, penyebaran informasi, dan penggunaan konten yang melanggar persetujuan serta privasi seseorang.

Membangun Ruang Digital yang Lebih Aman

Penguatan pemahaman mengenai keamanan digital dan KBGO menjadi semakin penting ketika penggunaan teknologi terus berkembang, sementara risiko kekerasan dapat muncul melalui berbagai platform yang digunakan masyarakat setiap hari.

Karena itu, perlindungan terhadap perempuan dan kelompok rentan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis individu dalam menjaga perangkat. Diperlukan pula kesadaran kolektif, pemahaman mengenai hak-hak korban, serta akses terhadap dukungan dan pendampingan ketika kekerasan terjadi.

Melalui pelatihan ini, keterlibatan berbagai organisasi dan komunitas di NTB diharapkan dapat memperluas penyebaran pengetahuan mengenai keamanan digital sekaligus memperkuat respons terhadap kasus-kasus KBGO.

Organisasi masyarakat sipil, komunitas perempuan, jurnalis, lembaga pendidikan, dan berbagai kelompok masyarakat memiliki peran penting dalam membangun lingkungan digital yang lebih aman, termasuk melalui edukasi, pencegahan, serta penyampaian informasi mengenai pilihan perlindungan bagi penyintas.

Upaya membangun simpul keamanan digital di NTB menjadi salah satu langkah untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat terus dikembangkan di tingkat komunitas.

Dengan meningkatnya kesadaran bersama, ruang digital diharapkan dapat menjadi tempat yang lebih aman dan inklusif, di mana perempuan dan kelompok rentan dapat berpartisipasi, berkomunikasi, serta menggunakan teknologi tanpa harus menghadapi ancaman kekerasan dan diskriminasi.

 

Sumber : InsideLombok

 

Perkuat Keamanan Digital, Lokadaya dan Inspirasi Dorong Perlindungan Perempuan dan Kelompok Rentan dari KBGO di NTB

By Kutipan Media

Mataram, 14 Oktober 2026 – Jejaring Lokadaya Nusantara bersama Simpul Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menggelar Seri Pelatihan Penguatan Kapasitas Keamanan Digital dan KBGO untuk Perempuan dan Kelompok Rentan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 13–14 Oktober 2026 di Hotel Astoria Mataram, diselenggarakan berkolaborasi dengan Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (Inspirasi) dan didukung oleh Oxfam Hong Kong. Kegiatan melibatkan perwakilan dari 24 organisasi dan komunitas dengan latar belakang yang beragam, mulai dari organisasi perempuan dan keagamaan, jurnalis, lembaga pendamping perempuan dan anak, organisasi kepemudaan, masyarakat adat, kelompok disabilitas, komunitas pemuda digital, hingga perguruan tinggi.

Kegiatan ini berangkat dari semakin besarnya ruang digital dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus meningkatnya risiko kekerasan yang menggunakan teknologi sebagai medium.

Direktur Inspirasi, Rohani Inta Dewi, menekankan bahwa perhatian terhadap kekerasan berbasis gender di ruang digital masih perlu diperkuat. Menurutnya, masyarakat kini menghabiskan banyak waktu dalam ruang digital sehingga risiko yang muncul di dalamnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Membangun Kesadaran tentang Risiko di Ruang Digital

Perwakilan Tim Lokadaya Nusantara, Raudatul Janah, menjelaskan bahwa pelatihan di NTB merupakan bagian dari rangkaian kerja penguatan keamanan digital yang dikembangkan bersama mitra di sejumlah wilayah.

Kolaborasi dengan Inspirasi bermula dari pembahasan mengenai kebutuhan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender yang terjadi secara daring. Dari proses tersebut, penguatan kapasitas keamanan digital dipandang perlu menjangkau bukan hanya perempuan dan anak perempuan, tetapi juga kelompok rentan lainnya. Narasio.com

Raudatul juga menyoroti berbagai catatan organisasi masyarakat sipil dan lembaga nasional yang menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender, termasuk yang terjadi secara daring, menjadi persoalan yang semakin perlu mendapatkan perhatian setelah pandemi.

Karena itu, pelatihan tidak hanya membahas bagaimana teknologi digunakan, tetapi juga bagaimana setiap orang dapat mengenali risiko, melindungi data pribadi, dan mengambil langkah ketika menghadapi ancaman digital.

Dari Phishing hingga Pengambilalihan Akun

Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi keamanan digital bersama dosen dan praktisi teknologi informasi Brian Abby Ariestyo Wiryandito.

Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk ancaman digital, antara lain phishing, social engineering, pengambilalihan akun, impersonasi, doxxing, penipuan digital, hingga cyberstalking.

Pembelajaran tidak berhenti pada teori. Peserta juga melakukan praktik pengamanan perangkat dan akun masing-masing.

Mereka diajak melakukan audit keamanan email, menggunakan passphrase yang lebih panjang dan unik, memeriksa pengaturan privasi media sosial, mengaktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA, hingga mengenali penggunaan fitur biometrik sebagai lapisan tambahan dalam melindungi perangkat dan akun.

Pendekatan praktik tersebut menjadi penting karena keamanan digital sering kali berawal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Mengenali Beragam Bentuk KBGO

Hari kedua difokuskan pada pemahaman mengenai bentuk-bentuk KBGO, etika digital, serta perlindungan hukum bagi penyintas.

Direktur LBH APIK NTB, Nuryanti Dewi, mengingatkan bahwa kekerasan berbasis gender online tidak semata-mata merupakan persoalan teknologi. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol, memanipulasi, atau mengeksploitasi korban. Narasio.com

Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk KBGO, di antaranya penyebaran konten intim tanpa persetujuan, cyberstalking, doxxing, impersonasi, pornografi deepfake, sextortion, cyber grooming, cyber harassment, hingga penipuan rekrutmen kerja secara daring. Narasio.com

Pemahaman terhadap ragam bentuk kekerasan tersebut menjadi penting agar masyarakat mampu mengenali bahwa kekerasan di ruang digital tidak selalu berbentuk serangan teknis terhadap perangkat. Ancaman juga dapat muncul melalui relasi, manipulasi, penyebaran data, atau penggunaan konten tanpa persetujuan.

Stigma Masih Menjadi Hambatan Korban untuk Melapor

Salah satu tantangan yang dibahas dalam pelatihan adalah masih kuatnya rasa takut dan stigma yang dialami penyintas.

Nuryanti menjelaskan bahwa korban KBGO sering tidak melaporkan pengalaman mereka karena khawatir dianggap sebagai aib, malu, atau takut menghadapi stigma sosial. Perempuan dan anak merupakan kelompok yang banyak mengalami risiko, meski kekerasan berbasis gender online pada dasarnya dapat mengenai siapa saja.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan keamanan digital perlu berjalan beriringan dengan sistem pendampingan yang berpihak kepada korban.

Kemampuan mengamankan akun penting, tetapi ketika kekerasan sudah terjadi, korban juga membutuhkan informasi mengenai pilihan penanganan, dukungan psikososial, akses pendampingan, serta jalur hukum yang dapat ditempuh.

Membangun Simpul Respons KBGO di NTB

Dari rangkaian pelatihan, empat aspek dipandang penting untuk memperkuat respons terhadap kekerasan digital: regulasi dan penegakan hukum, edukasi dan peningkatan kesadaran publik, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan sistem dukungan bagi penyintas.

Keterlibatan 24 organisasi dan komunitas dengan latar belakang yang beragam membuka peluang agar pengetahuan dari pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir.

Organisasi perempuan dapat memperkuat pendampingan, jurnalis dapat meningkatkan kepekaan dalam pemberitaan, organisasi pemuda dan komunitas digital dapat memperluas literasi keamanan, sementara lembaga layanan dapat semakin mengenali karakter kasus KBGO yang berkembang mengikuti perubahan teknologi.

Melalui rangkaian ini, Jejaring Lokadaya Nusantara bersama Inspirasi mendorong tumbuhnya simpul komunitas yang lebih mandiri dan berkelanjutan dalam merespons KBGO di NTB.

Upaya tersebut menjadi penting karena ruang digital terus berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bersamaan dengan peluang yang ditawarkan teknologi, kemampuan untuk mengenali risiko, menjaga keamanan diri, dan mengetahui ke mana harus mencari pertolongan juga perlu tumbuh.

Dengan penguatan kapasitas yang dilakukan secara bersama, keamanan digital diharapkan tidak hanya menjadi keterampilan individu, tetapi berkembang menjadi pengetahuan kolektif untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi perempuan dan kelompok rentan.

 

Sumber : Narasio